ANAK PENDERITA STUNTING DI LEMBATA, CAPAI 2201 JIWA


Mediasurya.com,Lewoleba_Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini mengeluarkan data yang mencengangkan, per Desember 2019 terdapat 2201 anak Lembata menderita STUNTING.
Dari data yang disampaikan terdapat 666, anak dibawah dua tahun dan sebanyak 1.635 anak dibawah lima tahun yang menderita stunting. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr.Lusia Candra, ketika memaparkan materinya dalam Workshop Evaluasi pelaksanaan Bina Keluarga Balita Holistik-integratif (BKB-HI) di aula hotel Palm Indah, Sabtu (22/2), yang diselenggarakan Plan Internasional, Program Implementasi Area Lembata, Nusa Tenggara Timur mengungkapkan, stunting akan menganggu perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
Dalam jangka panjang stunting bisa berakibat buruk dengan menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua.

Baca juga ;

TRADISI GUTI NALE DAN WISATA PANTAI SELATAN LEMBATA

RAYAKAN HARI PERS AWAK MEDIA DI LEMBATA, KUNJUNGI JOMPO


Workshop tersebut menampilkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dr Lusia Candra, Abros Wuring Leyn, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) serta dimoderatori oleh Stef Tapobali, aktivis NGO di Lembata.
Masih menurut dr Lusia Chandra bahwa, hambatan tumbuh kembang anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi secara kronis, infeksi penyakit yang berulang dan kurangnya stimulasi psikososial. mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun (1000 HPK).

dr.Lusia menyebut, derajad kesehatan dipengaruhi 40 %, factor lingkungan (sanitasi dan air bersih), 30 % factor perilaku, 20% karena factor pelayanan kesehatan, dan 10% genetika atau factor keturunan.
Sedangkan dalam kasus Stunting, ada tiga komponen penting yang berpengaruh yakni, Pola Asuh, Pola Makan, Air bersih dan sanitasi.
Saat ini dinkes telah melakukan Pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di 151 Desa/Kelurahan oleh Sanitarian Puskesmas bersama Pokja AMPL (bersama program Pamsimas, MCA-I, Selain itu, pihaknya juga telah mendeklarasi STMB 6 pilar di 78 Desa oleh Pokja AMPL.
kami juga melakukan monitoring Pasca pemicuan STBM di 73 Desa/Kelurahan menuju Deklarasi, dan kami juga terus melakukan monitoring keberlanjutan STBM, pasca deklarasi STBM di 78 Desa/kelurahan. Saat ini ada 45 Desa direkomendasi untuk periapan deklarasi STBM tahun 2020.

Dr. Lusia Candra menandaskan, pihaknya terus mendorong Peran Lintas Sektor guna menjalankan Strategi gizi SENSITIF (70%) yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang dengan melakukan Kegiatan : Air dan Sanitasi (STBM), Pertanian dan Ketahanan pangan, Program Jaminan Kesehatan, Program Pemberdayaan Perempuan (POLA ASUH), (peningkatan kapasitas/ wawasan/pengetahuan), sebagaimana dilakukan bersama para Fasilitator BKB-HI ini.
Sementara itu, Ambrosius Wuring Leyn, Kadis Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Lembata, menandaskan, sangat kuat pengaruh penerapan kegiatan BKB-HI terhadap pencegahan / penurunan stunting.
seorang anak mengalami stunting, karena perilaku orangtuanya teristimewa 1000 hari pertama kehidupan (HPK), maka sasaran kegiatan BKB-HI adalah orangtua dengan sasaran tidak langsung adalah anak.
“jika perilaku orangtua tidak sesuai dengan tahapan tumbuih kembang anak, akan sangat berpotensi stunting pada anaknya seperti: gizi yang buruk/kurang, pola asuh yang tidak sesuai,” ujar Ambros Leyn.st/ms

1 thought on “ANAK PENDERITA STUNTING DI LEMBATA, CAPAI 2201 JIWA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *