WISATA BUDAYA, MENJAGA TRADISI GUTI NALE DESA MINGAR

Mediasurya.com,Lembata_Pemda Lembata dalam percepatan pembangunen dorong sektor wisata sebagai lokomotif utama, yang diharapkan mampu diterjemahkan dan dijalankan secara baik untuk Lembata yang mandiri. Guti Nale, budaya ambil nale makluk laut yang tidak hanya memiliki kandungan protein yang tinggi namun, juga memiliki cerita mistis yang panjang dan setiap tahun orang minggar menjalankan tradisi ini dalam persuadaraan.

Tradisi Guti nale yang unik ini, kemudian mendorong pemerintah kabupaten melalui dinas pariwisata mengelar festival yang tidak sekedar menarik minat wisatawan namun sekaligus menjaga tradisi agar tidak pupus dimakan zaman.

Mengawali budaya Guti nale yang dibalut dalam festival, oleh warga minggar tetap diawali dengan ritual adat memberikan sesajian kepada 6 tokoh penting (leluhur) di tiga lokasi di Mingar, Desa Pasir Putih, Sabtu (15/2/2015) pagi, mengawali festival Nale tahun 2020. Sesajian itu diberikan kepada enam sosok leluhur yang dipandang berjasa menghadirkan Nale untuk dikonsumsi dan memberi kehidupan kepada Masyarakat Mingar, Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Keenam tokoh leluhur tersebut sebagai tokoh sentral yang wajib diberikan sesajian, agar dapat menuntun sejenis cacing laut itu menuju ke kolam untuk diambil warga.

Nale adalah sejenis cacing laut berwarnah hijau dan coklat serta bertekstrur sangat kecil dan halus. Namun warga setempat percaya, Nale adalah ikan atau rejeki yang berasal dari alam gaib (Duli), untuk memberi makan warga yang sangat membutuhkan makanan di wilayah tersebut.

Namun ada pula warga menuturkan, “Duli” adalah sebuah daerah di wilayah Kabupaten Alor sebagai tempat asal Srona dan Serani, pembawa Nale ke wilayah Mingar, Desa Pasir Putih. Nale dapat memberi kehidupan dapat diketahui melalui terminology warga setempat, “Duli Gere, Lewo Rae Malu Mara” yang berarti, Ikan Nale datanglah, sebab kampung sedang mengalami kelaparan dan haus. Ritual adat memberi makan atau sesajian, Sabtu (15/2/2010) pagi itu, dipimpin Andreas Puri Papang dari suku Ketupapa dan Paulus Pati Kabelen, dari Suku Atakabelen.

Keenam tokoh yang dianggap penting dalam sejarah Nale di Mingar, Desa Pasir Putih adalah Serona dan Serani, Serupu dan Serepe, Orang tua Belawa dari Suku Atakabelen dan Belake dari Suku Ketepapa.

Ritual pertama dilakukan di Duang Waitobi atau koker Nale. Tempat yang dikenal warga setempat sebagai rumah tempat tinggal Srupu dan Srepe, Istri dari Srona Serani, dua sosok mistik yang dipercaya berasal dari Duli. Ritual adat memberi makan atau sesajian kepada Srupu dan Serepe itu dipimpin Andreas Puri Papang dari suku Ketupapa. Sesajian yang diberikan berupa Nasi dari beras hitam dan isi hati perut ayam ditambah tuak putih. Ritual kemudian dilanjutkan di Duli Ulu. Duli Ulu adalah tempat disemayamkan tengkorak Srona dan Serani, dua sosok pria yang mengaku berasal dari Duli dan membawa serta Nale ke wilayah itu.

Ritual dipimpin oleh Paulus Pati Kabelen, dari Suku Atakabelen, suku Tuan Tanah dan Andreas Puri Papang dari suku Ketupapa.

Ritual berlangsung serupa, ditandai pemberian makan atau sesajian kepada leluhur disertai permintaan dalam bentuk syair menurut Bahasa setempat.

“Pito Lau buto Ia, Buto Lau Siwa Ia, lili sala lere, kama guti ika Nale, bawata ika ju aka, je nau, lau aka, ju geji, kusak ke kokere, kama guti para ribu ratu, kide knukak, tuak blurek ka Lewo Tite ia malu mara,” demikian syairnya. Ritual selanjutnya dilanjutkan di kubur orang tua Belawa yang terletak di pantai Watan Raja, Desa pasir Putih. Ritus ini dipimpin oleh Paulus Pati Kabelen dari Atakabelen.

Menurut warga setempat, Orang tua Belawa, dari Suku Atakabelen dan Belake dari Suku Ketepapa, bermukim di kampung Mingar Lama kala itu. Konon, kedua leluhur ini kembali jam 4 pagi dari memancing. Saat mendengar anjing gongong di pantai, bertemulah keduanya dengan dua sosok pria yang bernama Serona dan Serani, sedang duduk diatas pohon Pandan di pantai Watan Raja, Desa Pasir Putih saat ini.

“kami jalan jauh dari padang, kami berasal dari Duli. Kami datang bersama ikan Nale,” demikian Serona dan Serani menyampaikan asal usul dan bawaan ke kampung Mingar.

Keempatnya kemudian berjalan kaki menuju ke kampung lama Mingar. Serona dan Serani membawa serta Nale ke kampung tersebut kemudian melatih warga setempat untuk mengonsumsi Nale. Bahkan saking banyaknya, warga juga dapat menjual Nale hingga ke wilayah lain di Lembata.

Ritual adat memberi makan atau sesajian kepada para leluhir itu berakhir di kubur orang tua Belawa yang terletak di pantai Watan Raja, Desa pasir Putih. Wargapun bersiap untuk mengambil Nale di Pantai Watan Raja pada malam hari.sm

Share

6 thoughts on “WISATA BUDAYA, MENJAGA TRADISI GUTI NALE DESA MINGAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *