PENDIDIKAN DI TENGAH PANDEMIK COVID 19

Oleh Melkior Muda Makin

Membaca tulisan dan pandangan seorang Socrates (filsuf Yunani) tentang kualitas kehidupan, sungguh sangat menggelitik saya untuk coba beropini tentang nasib kehidupan pendidikan kita di tengah pandemik covid 19.

Menurutnya, hidup yang tidak teruji tak layak untuk dijalani. Hidup harus tetap dipertanyakan dan diuji terus. Baik dan buruknya kehidupan merupakan hal yang absolut, bukan relatif. Dan kedua hal ini hanya bisa ditemukan maknanya lewat uji pertanyaan dan penalaran. Karena untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik, orang perlu tahu terlebih dahulu, apa itu baik dan apa itu buruk.

Baca juga ; Ketua PKK Lembata, Yuni Damayanti ; Soal Korona, PKK Akan Turun Seluruh Posyandu.  -. Terkait Korona Di Lembata, Positif Hasil Rapidtes Bertambah Jadi 6 Orang.  -. Sebelum ke Kantor, Ketua DPRD Lembata Bagi Masker dan Beri Pemahaman Soal Korona Di Pasar Senja TPI..

Penalaran sang filsuf di atas, serasa sangat relevan dengan situasi kehidupan pendidikan bangsa kita saat ini. Chaos yang melanda dunia pendidikan sekarang, sebenarnya merupakan akibat dari ketidaksiapan sistem pendidikan kita dalam menghadapi kejadian-kejadian luar biasa (extra ordinary case) seperti wabah covid 19.

Yang menjadi point dari pandangan seorang Socrates sebenarnya ada dua hal. Pertama, hidup harus terus diuji dengan penalaran. Hidup hanya bisa dikatakan berkualitas baik, kalau ia telah melewati sekian tahapan ujian. Hidup yang baik, senantiasa lahir dari jatuh dan bangunnya proses ujian yang membentuknya.

Kehidupan pendidikan kita pun, saat ini, sebenarnya sedang dalam suatu ujian yang luar biasa beratnya. Covid 19 merupakan ‘guru’ alam yang terus melakukan pengetatan dan penyaringan kualitas kehidupan sebuah bangsa atau daerah. Seberapa kuat bangsa itu bertahan untuk terus menjaga keberlangsungan kehidupan pendidikannya, mengingat nasib bangsa tersebut ditentukan juga di atas pundak generasi yang sehat.

Saat ini, kehidupan pendidikan kita, dari ibu kota hingga ke pelosok negeri sekalipun, semuanya sedang goyah dan mungkin terancam mati, apabila tidak segera dilakukan refleksi demi refleksi, untuk bangkit kembali secara lebih cepat.

Kedua, Hidup harus senantiasa dipertanyakan. Terus menerus mempertanyakan kehidupan, sebenarnya sebuah upaya paling baik dalam menggali dan mengenal semua potensi kehidupan yang dimiliki. Hanya dengan mengenal betul setiap bagian dari kekuatan dan kelemahan hidup, kita akan semakin mudah mendekatkan diri pada kehidupan yang berkualitas.

Serangan pandemik Covid 19, merupakan guru terbaik sepanjang masa. Wabah ini, secara positif harus dilihat sebagai ‘inti’ dari semua pertanyaan reflektif, tentang bagaimana kita mampu segera bangkit untuk menghidupkan kembali pendidikan kita. Kebangkitan pendidikan kita, tentu harus didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan dan penalaran yang baik, bagaimana kita dapat bangkit kembali.

Realitas menunjukan bahwa memang benar kita sama sekali tidak siap. Kita shock dan ambruk seketika. Covid 19 dengan mudah membunuh semua sistem kehidupan pendidikan kita secara masif.

Semestinya, dari realitas ini, segeralah kita menggugat dan mempertanyakan diri kita. Mengapa seketika pendidikan kita langsung ‘stuck on’ dan nyaris mati? Mengapa tidak dipikirkan sama sekali di dalam setiap kebijakan pendidikan kita, tentang regulasi dengan segala bentuk intervensinya, terkait adanya kemungkinan penghancuran kehidupan pendidikan dari sisi internal atau pun eksternal, seperti saat ini? Sejauh mana sistem pendidikan kita mampu memproteksi generasi bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, mau pun Miangas sampai Rote? Dan mungkin juga pertanyaan-pertanyaan reflektif lain yang harus segera kita munculkan untut mendapatkan jawaban cerdas dalam menjaga keutuhan kehidupan pendidikan kita.

Socrates vs Makarim: Harapan Kebangkitan Pendidikan

Secara pribadi saya melihat adanya kesamaan intisari pemikiran di balik kedua tokoh besar ini. Socrates, seorang filsuf tersohor, yang hasil pemikirannya tidak hanya baik bagi rakyat Yunani, melainkan seluruh dunia, termasuk kita. Nilai yang terkandung di balìk ajarannya tentang bagaimana memaknai sebuah kehidupan yang baik, setelah melalui pertanyaan, penalaran dan ujiannya, senantiasa membantu banyak orang untuk tetap bertahan di tengah kehidupan dan segala macam ‘goncangannya’.

Bangsa Indonesia, bangga punya Nadiem Makarim, seorang muda yang sangat cerdas dengan visi kehidupan yang luar biasa. Kehebatan dan kecerdasannya dalam mempredikisi “sesuatu yang akan terjadi jauh di depan mata”,sungguh menghantarkan beliau pada penganugerahan sebuah kepercayaan tertinggi dari negara, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sejak awal, Presiden Jokowi mempercayakan kursi Mendikbud ke tangan seorang Makarim, banyak pihak seakan ragu, tidak percaya, dan mungkin ‘merendahkan’nya. Keraguan paling mendasar adalah Makarim bukan dari kalangan pendidikan dan belum punya pengalaman cukup mengurus pendidikan bangsa. Mau di bawah ke mana bahtera besar pendidikan bangsa ini, kalau nahkodanya kurang memahami laut dan segala keganasannya?

Pemikiran-pemikirannya cerdas beliau kala itu pun diprotes keras dan ditentang habis-habisan. Kebijakan Merdeka Belajar yang akan mengilangkan pelaksanaan Ujian Nasional dan kerja asministrasi manual guru yang ribet, Metodologi belajar daring (dalam jaringan) bagi perkuliahan, bagi sekolah-sekolah, bagi diklat guru-guru, inovasi dan kreatifitas pendidikan berbasis IT, hingga munculnya aplikasi-aplikasi belajar jarak jauh yang menolong siswa sekalipun, juga semuanya ditentang dan dikritik habis-habisan.

Bahkan, yang menjadi sangat miris adalah, justru yang melontarkan kritikan pedas ini datang dari kalangan pendidikan itu sendiri. Kita sepertinya sulit sekali mengakui kelebihan dan kecepatan berpikir jauh seorang Makarim.

Dan saat ini, ketika bangsa ini berantakan dengan serangan covid 19, dan semua pendidikan pun (Pendidikan Dasar – Perguruan Tinggi) harus hancur dan lumpuh total, segala sesuatu harus dilakukan dari rumah, tidak ada lagi tatap muka, tidak ada lagi interaksi dan komunikasi langsung, dan semuanya mulai ribut dengan keluhan dan caci maki terhadap situasi yang kacau balau, sang Makarim tersenyum puas.

Makarim membuka wawasan berpikir kita yang sempit. Seperti seorang Socrates yang menggariskan pentingnya melakukan penalaran dan ujian terhadap hidup, Makarim pun serupa.

Makarim telah lulus dalam ujian kehidupan atas kepercayaan sebagai seorang menteri pendidikan. Ia bahkan mampu “memprediksi” bahwa suatu saat bangsa ini akan sampai pada titik kulminasi kehancuran akibat bencana demi bencana besar. Pendidikan kita harus sudah disiapkan untuk semua kekacauan global tersebut. Intinya, generasi bangsa harus tetap hidup dalam situasi dan kondisi bangsa seperti apa pun itu.

Akibat pandemik Covid 19, semua kita: pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi, semuanya harus dijalankan dari rumah. Tiada lagi aktifitas manual tatap muka. Tiada lagi diskusi dan cerama langsung. Tiada lagi rangkulan dan pelukan mesrah seorang sahabat. Bahkan tiada lagi kebersamaan. Semuanya kembali dalam kesendirian, dalam ego dan dalam batasan (distancing).

Makarim sudah mempersiapkan itu secara baik. Ide dan gagasannya dulu, 100% terjawab sekarang. Pertanyaan kehidupan kita saat ini adalah: seberapa siap kita?

Saya mendengar dan membaca banyak curhatan para pelaku pendidikan di seluruh tanah ini (dosen, guru, mahasiswa, siswa) tentang beratnya menjalankan suatu metode pembelajaran dan pengajaran di tengah pandemik covid 19 (home learning without teacher). Banyak yang mengatakan tidak siap dengan sistem pembelajaran jarak jauh (daring/virtual), tidak punya koneksi internet, tidak punya perangkat, tidak punya biaya, dan sebagainya.

Namun perlu digarisbawahi, di dalam perang, hanya orang yang mampu bertahan yang hidup. Perang melawan covid 19 dengan segala konsekwensinya juga menuntut kita untuk terus bertahan atau harus mati, termasuk kehidupan pendidikan kita. Socrates di zamannya telah mengajarkan kita untuk cerdas bertahan dalam ujian, dan Makarim di zamannya pula telah menunjukkan rahasia agar pendidikan dan segala kehidupannya harus tetap survive di tengah situasi pandemik seperti sekarang. Jadilah bijak, dan hiduplah selaras zaman.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *