Protes Anggota Fraksi PKB DPRD Lembata Tidak Di Gubris, Warga Desa Pasir Putih Tetap Nikamti Wisata Pantai Watan Raja

Protes Anggota Fraksi PKB DPRD Lembata Tidak Di Gubris, Warga Desa Pasir Putih Tetap Nikamti Wisata Pantai Watan Raja

Mediasurya.com,Nagawutun_Aksi Protes yang dilakukan anggota Fraksi PKB DPRD Lembata, Yosep Boli Muda terhadap pengembangan daerah wisata pantai Watan raja, desa pasir putih minggar, kecamatan Nagawutun seakan tak digubris warga, pasalnya animo masyarakat untuk menikmati sepenggal surga pantai selatan yang tengah di tata menjadi daerah tujuan wisata amat tinggi.

Protes terkait pembangunan lapangan voli pantai yang seolah-olah, menggusur habis puluhan hektar rumpun pandan di bibir Pantai Watan Raja, tak menyurutkan antusias mayoritas warga Desa Pasir Putih yang datang dan menikmati suasana di lokasi wisata ini. Walau sejak pagi aksi protes dilontarkan Yosep Boli Muda atas pengrusakan pandan, namun warga tetap memenuhi lokasi wisata menikmati suguhan di objek wisata berpasir putih ini.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/06/30/cari-solusi-partisipasi-pemilih-kpu-lembata-ajak-diskusi-wartawan/

Pantauan media ini di lapangan voli pantai di Pantai Watan Raja Mingar, Minggu, 5 Juli 2020 pagi, protes yang dilakukan Yosep Boli Muda, anggota DPRD Lembata dari Fraksi PKB itu terkait pengrusakan rumpun pandan di sepanjang lapangan voli pantai yang dibangun itu.

Menurutnya, pembangunan itu sudah merusak pandan yang selama ini oleh masyarakat Mingar dianggap sebagai bakau untuk menahan ganasnya abrasi pantai selatan.

Baca juga ;
https://www.mediasurya.com/2020/07/05/update-data-pemilih-kpu-lembata-upaya-menjamin-hak-pilih-warga/


Dikatakannya, jika pandan dibongkar, hempasan air laut akan menggerus pasir dan membahayakan masyarakat. Apalagi, jika tak ada penahan berupa pandan, maka air akan membawa tanah dan menyebabkan perubahan warna pasir putih itu menjadi coklat.

Yosep Muda berjanji akan tetap berjuang menyikapi kerusakan itu, walau diakuinya bahwa langkahnya itu bukan untuk mempersalahkan siapapun.

“Pandan adalah magrovenya orang Mingar. Kalau begini ikon pasir putih akan hilang karena jika hujan tanah akan terseret ke tepi pantai dan pasir akan menjadi coklat,” tegasnya.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/06/30/stunting-di-lembata-capai-2-301-anak/

Boli Muda tetap pada pendirian dan tak mau bertemu bupati serta tak mau terlibat dalam kegiatan di lapangan voli pantai itu.

Walau ia tetap menolak namun warga lainnya tampak antusias mengikuti sejumlah kegiatan termasuk pertandingan voli pantai antardesa dan instansi di lokasi itu.

Warga lainnya juga asyik menikmati arena permainan seperti ayunan di lokasi itu yang telah disediakan pemerintah desa setempat.

Sementara itu warga lainnya berjualan aneka makanan lokal dan produk pertanian pada sejumlah lapak yang telah dibangun sejak kegiatan Festival Guti Nale beberapa waktu lalu.

Pantai Watan Raja Mingar sejak pagi hingga sore dipenuhi warga baik warga desa setempat dan desa tetangga, juga yang datang dari Lewoleba.

Baca Juga ; https://www.mediasurya.com/2020/06/29/muhamad-fajar-bantah-kapal-katamara-dan-phinisi-aku-lembata-milik-pemda-lembata-tanpa-dokumen/

Ketika melakukan aksi protes, Sejumlah pejabat Pemkab Lembata tampak berdialog dan melakukan pendekatan dengan Boli Muda. Di antaranya Kasat Pol PP Markus Lela Udak, Direktur RSUD Lewoleba dr Bernard Beda, Kabag Tata Pem Jhon Arimon, dan Kepala Dinas Pendidikan , Kepemudaan dan Olahraga Silvester Samun.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur usai menyerahkan lapangan dan peralatan olahraga voli pantai kepada pemerintah desa mengatakan, Pantai Watan Raja Mingar merupakan objek wisata yang perlu dikembangkan. Pemkab, lanjutnya, berupaya menata objek wisata budaya itu, dengan membangun sarana pendukung sebagai sarana entertainment di lokasi itu dan setelah itu diserahkan. Pengelolaannya kepada pemerintah desa.

“Kita mulai tata dan kembalikan ke desa. Diatur dari sisi keindahan dilihat eksotis. Setelah selesai akan ditangani desa. Kondisi semula yang ada lorong akan ditata. Pengembangan kawasan pariwisata. Jadi bukan merusak,” tegas Bupati Sunur.

Ia mengakui bahwa apa yang dilakukan itu untuk menata objek wisata menjadi lebih menarik.

“Tidak ada kepentingan kabupaten. Kepentingan masyarakat bisa rasakan manfaatnya. Ini aset desa dan hanya berikan penguatan perencanaan kebijakan yang dibuat desa agar sinergi dengan kabupaten dan jadi desa kompetitif,” katanya

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *