Batal Berangkat Keluar Negeri, 9 Remaja Asal Flores Timur Mengadu ke Polresta Denpasar

Batal Berangkat Keluar Negeri, 9 Remaja Asal Flores Timur Mengadu ke Polresta Denpasar

MEDIAAURYA.COM, DENPASAR_ Sebanyak 9 anak remaja asal Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT mengadu ke Polresta Denpasar, Selasa (18/8). Anak-anak yang baru tamat di berbagai SMA di Flores Timur ini, mengadukan nasibnya ke Polresta Denpasar karena sudah 2 tahun terkatung-katung di Bali.


Ke sembilan remaja Flotim tersebut hingga kini, belum bisa diberangkatkan berbagai negara tujuan seperti Taiwan, Jepang dan Turki.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/09/recovery-ekonomi-tim-kerja-presiden-ri-temui-masyarakat-akar-rumput-di-flotim/


Saat ditemui di Mapolresta Denpasar, salah satu korban bernama Lorensius Riberu mengatakan, ia dan teman-temannya sudah direkrut sejak tahun 2018.


“Sesungguhnya, totalnya kami semua berjumlah 51 orang, dimana direkrut dua gelombang. Dari jumlah itu, ada yang sudah berangkat, baik ke Taiwan, maupun ke Jepang. Namun sebenarnya banyak yang tidak jadi berangkat. Karena menunggu dalam ketidakpastian, yang tidak jadi berangkat mulai pelan-pelan pulang ke kampung halaman.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/16/meriahkan-75-tahun-kemerdekaan-ri-desa-belobatang-gelar-cerdas-cermat-kebangsaan/


Riberu mengatakan, Jumlah yang tidak jadi berangkat mencapai 21 orang. Awal tahun 2019, sudah pulang 5 orang tanpa hasil. Kemudian awal tahun 2020, ada 7 teman lagi yang pulang tanpa hasil dan seterusnya. Hingga saat ini tinggal kami 9 orang yang bertahan dan belum ada kejelasan kapan berangkat. Tapi yang bikin kami jadi marah, kami yang disini saja belum berangkat, ada informasi, sudah ada rekrutan baru lagi. Ini menjadi tanda tanya,” ujar Riberu.

Ia mengisahkan, sebelum berangkat ke Bali mereka dijanjikan bahwa di Bali hanya dua Minggu untuk berbagai pelatihan singkat dan administrasi. Namun perorang harus menyetor uang Rp 21 juta. Uangnya diambil dari hasil kredit di BRI Larantuka. Uang tersebut langsung dibayar ke LPK Darma Bali sebagai agen resmi keberangkatan keluar negeri.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/11/peternak-babi-boleh-tersenyum-lembata-bebas-asf-dan-hog-cholera/

Uang tersebut dijelaskan oleh perekrut untuk biaya pelatihan, administrasi, dan biaya hidup saat berada di tempat magang karena harus mengikuti program Magang. Setelah tiba di Bali dan akhirnya menunggu hingga 2 tahun, mereka disuruh untuk kredit lagi di Bank Fajar dan yang menjadi penjamin adalah LPK Darma Bali. Namun besaran kredit di Bank Fajar di Bali bervariasi. Untuk yang Taiwan, dilayani kredit sebesar Rp 15 juta. Sementara ada yang memilih ke Turki maka besar kredit sebesar Rp 27 juta. “Tapi kami hanya menerima sebesar Rp 25 juta. Dengan angka yang ditandatangani sebesar Rp 27 juta. Itu pun semuanya diserahkan ke LPK Darma Bali,” ujarnya. Alasan mengajukan kredit di Bank Fajar Bali adalah untuk biaya perjalanan karena uang yang dikredit dari BRI Larantuka sudah menipis.

Menurut Lorens, dirinya dan teman-temannya mengadukan nasib ke Polresta Denpasar untuk mencari keadilan. “Kami banyak ruginya, dua tahun terkatung-katung tidak jelas. Kuliah tidak, Bekerja juga tidak. Makanya banyak teman yang rugi dan memutuskan untuk pulang kampung,” ujarnya. Ia meminta LPK Darma Bali bersama beberapa tenaga perekrut untuk bertanggungjawab atas nasibnya dan teman-temannya. Ia meminta para pihak untuk bertanggungjawab yakni LPK Darma Bali, STIKOm Bali dan Pemda Flotim. Sebab saat rekrut merupakan kerja sama antara ketiga lembaga tersebut.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/04/29/sidak-harga-sembako-wabup-flotim-berang-pedagang-nakal-naikan-harga/

Kondisi saat ini semakin memprihatinkan. Dimana mereka hanya dijatah uang makan perminggu Rp 140 ribu rupiah. Itu artinya dalam sehari mereka hanya bisa makan seharga Rp 20 ribu.

Kasubag Humas Polresta Denpasar IPTU I Ketut Sukadi membenarkan terkait adanya laporan itu. Katanya, laporan tersebut masih bertatus pengaduan masyarakat (dumas). Pun korban 4 orang pelapor itu sudah dimintai keterangan awal.

“Ya kami masih dalami dumas ini, nantinya kami akan kumpul bukti-bukti. Setelah itu, kami akan gelar lagi untuk naikan status dumas menjadi Laporan Polisi (LP),” singkatnya.(tim mediasurya.com)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *