Anak Flores Timur, Ditelantarkan di Bali, Orang Tua Menduga ada Sindikat TKI

Anak Flores Timur, Ditelantarkan di Bali, Orang Tua Menduga ada Sindikat TKI

MEDIASURYA.COM,DENPASAR_ Pengaduan peserta magang asal Flores Timur ke Polresta Denpasar pada Selasa (18/8), membuat orang tua mereka di Flores Timur mengambil sikap. Mereka berencana akan melaporkan kasus ini ke Polres Flores Timur dan kepada pejabat berwenang di Kabupaten Flores Timur.

Salah satu orang tua yang anaknya terlantar di Denpasar, Antonius Lamanepa saat dihubungi media ini mengatakan, pihaknya bersama puluhan orang tua lainnya akan menggelar rapat besar untuk, mengetahui kejelasan anaknya baik yang saat ini masih berada di Bali maupun, yang sudah pulang tanpa hasil ke Flores Timur.



Sebelumnya, puluhan anak-anak yang umumnya tamatan SMA, direkrut oleh LPK Darma Bali bersama STIKOM Bali untuk, program magang ke Jepang dan Taiwan. Namun ada yang berangkat dan banyak pula yang gagal. Orangtua calon peserta menyesalkan sikap LPK Dharma yang hingga, saat ini belum memberikan kejelasan, sehingga akan meminta ganti rugi.

“Kami ini besok orangtua bertemu di Larantuka, di rumah teman yang memang juga jadi korban. Saya melihat semacam ada sindikat penipuan. Untuk angkatan 2018 itu penipuan. Kami sudah berikan gambaran kemarin, dengan harapan anak saya harus pulang sampai di rumah tanpa biaya saya.

Yang kedua ganti rugi, itu materil dan imateril. Kalau materil itu semua biaya yang saya keluarkan selama pelatihan harus dikembalikan. Dan biaya inmateril itu, anak saya sudah kerja dengan gaji sekian itu harus dikembalikan semua,” ungkap Lamanepa, Rabu sore (19/8).

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/18/batal-berangkat-keluar-negeri-9-remaja-asal-flores-timur-mengadu-ke-polresta-denpasar/

Anton mengaku, anaknya telah bekerja di Pulau Jawa namun karena, tergiur program Bupati Flores Tmur tentang selamatkan orang muda. Namun melihat kondisi saat ini, ia menyesalkan proses perekrutan dan penetapan kelulusan tidak dilakukan di Larantuka Flores Timur.

“Kalau memang pernyataaan bapak Rahman bahwa, ada yang tidak lulus tes okelah. Tidak lulus test itu harusnya penyaringan dari Larantuka, bukan penyaringannya di Bali. Untuk mengetahui kemampuan anak itu agar, nanti sampai di Bali tidak terlalu lama ikut test lulus dan berangkat. Ini sampai 2 tahun tidak berangkat, bagaimana perasaan kami orangtua,” ujar Anton.


Kejadian semuanya sama. Anak-anak ditawarkan untuk pinjam uang ke BRI di Larantuka. Namun karena gagal berangkat, di Bali ditawarkan lagi untuk pinjam di Bank Fajar. “Pinjaman yang di Larantuka saja kita belum bayar. Disuruh pinjam lagi ke Bank Fajar di Bali. Nanti siapa yang bayar,” ujarnya.


Anton mengaku demi keberangkatan anaknya, ia dan istrinya rela buka pinjaman di Bank NTT sebesar Rp 35 juta, namun, yang disetor ke LPK Dharma sebesar Rp 29 juta. Penyetoran itu dilakukan pemindahbukuan tanpa transfer, karena menurutnya saldo akhir di buku tabungan senilai Rp 6 juta.


“Kita lihat di dalam buku, tidak pernah kita transfer uang ke LPK Dharma. Kita lihat saldo akhir dari setelah menandatangani itu saldo akhir tinggal Rp 6 jutaan. Itupun tidak lama dipanggil lagi untuk dikurangi karena untuk biaya apa gitu, jadi uang sekarang tinggal Rp 75 ribu saja di buku,” urainya.


Sementara orang tua lainnya, Theodorus Wungubelen mengatakan, anaknya telah memilih kembali ke Larantuka mengaku tergiur dengan proses rekrutmen. Menurutnya, para orangtua tertarik karena program Bupati Flores Timur tentang selamatkan orang muda Flores Timur.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/09/pemda-flotim-dan-tim-kerja-presiden-dari-jembatan-palmerah-hingga-teken-kesepahaman-kerjasama-multy-bidang/


“Berawal dari info yang beredar diawal tahun 2018, dan setelah mendapat konfirmasi dari Dinas Naker Flotim serta saudara RSN yang mewakili pihak LPK Darma Bali. Saya mengizinkan anak saya untuk mengikuti program di maksud. Sekali lagi karena ada keterlibatan Pemda maka ijin itu saya berikan,” ungkapnya melalui pesan singkat Whatssapp, Selasa (18/08/2020).


Theo menjelaskan, anaknya dinyatakan lolos untuk diberangkatkan ke Bali bersama 16 peserta perempuan yang lain pada bulan Juli 2018. Namun sebelum berangkat, setiap calon peserta Theo menjelaskan, anaknya dinyatakan lolos untuk diberangkatkan ke Bali bersama 16 peserta perempuan yang lain pada bulan Juli 2018. Namun sebelum berangkat, setiap calon peserta membuka pinjaman di Bank BRI Unit Pasar Baru Larantuka.


“Sebelum peserta berangkat, oknum RSN meminta orangtua untuk membuka pinjaman di Bank BRI Unit Pasar Baru, Larantuka sebesar Rp 21 juta dan diberikan kepada LPK Darma. Info untuk peserta 2019 diarahkan untuk membuka pinjaman di bank lain di Larantuka,” tutur Theo.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/04/29/sidak-harga-sembako-wabup-flotim-berang-pedagang-nakal-naikan-harga/


Theo mengaku, informasi yang peserta terima dari RSN, setiba di Bali calon peserta magang akan dikursus bahasa Jepang 3 bulan. Dan mengikuti tes fomalitas lalu di berangkatkan ke Jepang. Peserta magang akan dipekerjakan pada perusahaan-perusahaan Jepang dengan gaji antatara Rp 7-15 juta sambil kuliah pada universitas di Jepang.


“Setiba di Bali hanya 15 peserta dari Flotim bergabung bersama peserta dari Bali yang tentu lebih siap mengikuti tes ke Jepang. Hasilnya dari 15 peserta asal Flotim, hanya 1 yang lolos bersama mayoritas peserta Bali,” ujarnya.


Theo mempertanyakan alasan ketidaklulusan karena dibawah umur. Harusnya saat rekrutmen awal diberitahu minimum umur. Sehingga orangtua peserta magang asal Kabupaten Flores Timur tidak mengutang ke bank bila anaknya tidak lulus.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/08/16/meriahkan-75-tahun-kemerdekaan-ri-desa-belobatang-gelar-cerdas-cermat-kebangsaan/


“Inilah awal membuat saya kecewa dan sempat marah. Kalau belum cukup umur kenapa diberangkatkan ke Bali? Lalu kenapa tidak dipulangkan? Semua ini kami ketahui dari anak, tidak ada komunikasi tentang perkembangan keberangkatan atau kehidupan mereka di Bali dari LPK Dharma,” katanya.


Lebih lanjut diungkapkan, meskipun gelombang pertama Juli 2018 belum jelas, namun pada September 2018 Pemda Flotim dan oknum RSN mengirim lagi 37 peserta ke Bali. Sehingga total peserta thn 2018 sebanyak 51 orang.


Sebelumnya pada Selasa (18/08/2020) kemarin, empat orang calon peserta magang asal Larantuka Kabupaten Flores Timur NTT mengadukan LPK Dharma ke Polisi. Mereka meminta polisi menyelidiki pengaduan mereka, agar LPK Dharma sebagai perusahaan perekrut tenaga kerja bertanggungjawab. (mediasurya.com//tim)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *