Sempat Dikucilkan Akibat Covid 19, Farida Lipat Lahirkan Bayi Perempuan Dengan Selamat

Sempat Dikucilkan Akibat Covid 19, Farida Lipat Lahirkan Bayi Perempuan Dengan Selamat

Nama Covivah disematkan kepada bayi mungil untuk mengingatkan keluarga kecil itu tentang wabah covid-19 yang mengancam dunia, namun tidak sampai merenggut nyawa Farida, pasien pertama terkonfirmasi covid-19 di Lembata.

Farida Lipat, 24 tahun, Warga Desa Babokerong, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur itu seketika membuat heboh di Kabupaten Lembata. Pasalnya, Farida menjadi pasien pertama di Lembata yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19.

Baca juga; https://www.mediasurya.com/2020/07/19/wanita-hamil-di-lembata-positif-covid-19/

Ia merubah zona hijau Lembata menjadi zona merah. Iapun mengeluhkan tekanan psikis oleh warga, selama menjalani masa karantina.

“Saat itu saya dalam kondisi hamil 6 bulan. Saat bersama suami saya tiba dari Makasar, Kami menjalani rapid test di Pelabuhan laut Lewoleba. Hasilnya saya sendiri reaktif. Kami kemudian diantar dengan ambulance milik Dinas Kesehatan untuk menjalani masa Karantina di Desa Babokerong. Pemerintah Desa sediakan sekolah TKK sebagai lokasi karantina bagi para pelaku perjalanan. Dua miggu di Karantina kami di swab test, hasilnya saya terkonfirmasi Covid-19. Dua minggu kemudian, kami kembali menjalani Swab Test. Alhamdulilah, hasilnya negative,” ujar Farida. Matanya terus memandangi sang buah hati yang kini sudah dalam dekapannya.

Kepada Media ini, Farida dan Burhanudin mengaku heran. Meski selalu dekat dengan sang isteri yang terkonfirmasi covid-19, namun Burhanudin tidak tertular pandemi itu.

Baca juga; https://www.mediasurya.com/2020/09/23/covid-19-berpotensi-gangu-pelaksanaan-pilkada/

Burhanudin Natan, selalu bersama isterinya yang sedang hamil, berada bersama di karantina, hingga saat ini, namun seluruh test menyatakan dirinya tidak terpapar wabah Korona.

Padahal, WHO mengeluarkan protokol Kesehatan, menjaga jarak dan pakai masker sebagai jurus ampuh menghindari pandemi covid-19.

Farida mengaku depresi menghadapi ketakutan dan kecemasan warga dalam 8 minggu atau 2 bulan 2 minggu menjalani masa Karantina, baik di pusat Karantina Desa Babokerong maupun di rumahnya sendiri.

Baca juga ;https://www.mediasurya.com/2020/11/05/kontraktor-yakin-jembatan-waima-lembata-bisa-digunakan-desember-mendatang/

“iya, saya depresi karena orang semua melihat kami sebagai orang yang tidak berarti dan membawa malapetaka di kampung ini. Sampai-sampai wadah untuk menggayung air di sumur pun di buang oleh warga karena kami pernah gunakan,” ujar Farida.

Meski mengaku depresi namun Farida terus dikuatkan oleh suami untuk iklas dan menerima perlakuan warga. Keduanya yakin, ketakutan warga beralasan dan akan redah dengan sendirinya.

Tidak hanya itu, ibunda Farida Lipat, Hasnah Wrena, 50 thn yang kerap mengantarkan makanan kepada anaknya di rumah karantinapun dikucilkan warga.

Baca juga; https://www.mediasurya.com/2020/10/23/pemerintah-pusat-kucurkan-15-4-miliar-bangun-talud-pengaman-pantai-di-flotim/

“iya saya menangis karena keluarga dekat sekalipun tidak mau bergaul dengan kami. Lorong di samping rumah kami inipun enggan di lewati warga,” ujar Hasnah Wrena.

Farida adalah Sarjana Pendidikan Ekonomi, dari kampus Yayasan Pendidikan Pembangunan Indonesia (Yaspi) Makasar, Sedangkan sang suami, Burhanudin Natan, 27 tahun, merupakan buruh nelayan guna menghidupi keluarga kecilnya. Ia bekerja pada perahu ikan milik kerabat sang isteri, dengan sistim bagi hasil dengan pemilik perahu.
Atas persetujuan kedua orang tuanya, bayi perempuan itupun kami namakan Covifah. Buah cinta Farida Lipat dan Burhanudin Natan itu menjadi saksi, getirnya perjuangan ibunda yang kala itu sedang mengandung, kemudian divonis reaktif rapid test, menjalani karantina di Desa, menerima tekanan psikis saat dinyatakan terkonfirmasi Covid-19, hingga akhirnya menerima hasil SWAB Test kedua yang menyatakannya negatif.

Farida mengatakan, selama masa karantina, ia hanya diberi vitamin untuk ibu hamil oleh bidan Desa. Menurutnya, vitamin itu untuk menjaga Kesehatan kandungannya. Sedangkan asupan makanan di tanggung keluarga selama dua minggu masa karantina saat hasil Swab menyebut Farida terkonrifmasi covid-19.

Baca juga; https://www.mediasurya.com/2020/09/23/fraksi-partai-demokrat-minta-pemerintah-beri-perhatian-lebih-kepada-guru-honorer/

Sementara pihak Desa memberikan beras 25 kg, 6 bungkus mie dan sayur sawi, pada saat menjalani karantina karena terkonfirmasi positip covid-19.

“Saat itu, saya tidak merasakan gejala sakit apapun. Kami dikasi susu, obat-obatan dari Dinkes. Tapi yang paling penting, kami diingatkan untuk tidak boleh stress dengan situasi. Saya selalu ditemani suami untuk jalan-jalan di seputar rumah karantina, sampai hasil swab negative dan kami jalani 2 minggu karantina di rumah,” ujar Farida.

Setelah hasil SWAB test negative, Farida Lipat akhirnya Kembali ke masyarakat. Ia menjalani 8 minggu atau 2 bulan 2 minggu, mengisolasi diri dari masyarakat akibat pandemi Covid-19.

Baca juga; https://www.mediasurya.com/2020/11/05/operasi-zebra-satlantas-polres-lembata-pantau-penerapan-protokol-kesehatan-di-sekolah/

Pada pekan lalu, tepatnya 26 oktober 2020, bayi mungil yang kemudian diberi nama Covifah oleh wartawan Media Indonesia dan mediasurya.com, lahir dengan berat 2,7 kg secara normal di Puskesmas Loang, Kecamatan Nagawutung.


Meskipun menjadi korban terpapar wabah virus Korona, keluarga kecil di Desa Babokerong ini tidak diberi bantuan oleh Pemerintah Kabupaten, Kecamatan maupun Desa.

Padahal, Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur dalam setiap kesempatan selalu menggaungkan program recovery ekonomi di tengah pandemi.

Bahkan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur menjadi salah satu Bupati di Indonesia menerima penghargaan oleh pemerintah pusat karena memunculkan inovasi dalam menjalankan recovery ekonomi di tengah wabah virus Korona.

Baca juga ;https://www.mediasurya.com/2020/11/03/bupati-sunur-lantik-badan-pengawas-pdam-lembata/

“sampai saat ini kami tidak pernah terima bantuan dari Pemerintah, baik Kabupaten, Kecamatan maupun dari Desa,” ujar Farida Lipat. Ia mengaku ber KTP Lembata.

Namun pihak pemerintah Desa Babokerong berdalih, bantuan pemulihan ekonomi kepada keluarga ex terkonfirmasi Covid-19 tersebut, tidak dapat di laksanakan karena, keluarga tersebut belum memutuskan untuk menetap di Desa.

Belakangan muncul pula alasan bantuan pemulihan ekonomi khusus untuk satu KK yang terkonvirmasi covid-19 tidak tersedia karena adanya kebijakan pemotongan ADD 30 % dan pemotongan Dana Desa 10% untuk Penanganan Covid-19 Kabupaten.


Sekretaris Desa Babokerong mengatakan, upaya pemerintah Desa memulihkan ekonomi warga dalam dokumen APBDes, yakni mengucurkan anggaran kepada 120 KK terdampak covid-19 sebagai penerima BLT.

Baca juga ; https://www.mediasurya.com/2020/11/03/camat-omesuri-membuka-turnamen-ikhlim-cup-usia-17-di-desa-hingalamamengi/

Sayangnya, anggaran tersebut tidak cukup untuk mengakomodir keluarga Farida Lipat dan Burhanudin Natan, yang terdampak langsung wabah covid-19 di Desa Babokerong. Farida Lipat adalah satu-satunya warga Desa setempat yang terkonvirmasi covid-19.

“Tahap pertama sesuai edaran Menteri, Rp.600 ribu per kk, per bulan. BLT Tahap satu saja ada Rp. 216 Juta. Kemudian pada tahap kedua dan tahap ketiga sesuai edaran itu 300 ribu rupiah per bulan per kk,” ujar Sekretaris Desa Babokerong, Safrudin Umar.

Disebutkan, bagi pasien terpapar Korona harus ada bantuan sebagai stimulus untuk pemulihan ekonomi.

“Hanya kita pemerintah Desa ini, tahun 2020 anggaran kita terlalu luar biasa dipangkas untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten. ADD saja dipangkas 30 % untuk Covid. Dari total ADD Rp.355 juta, di potong Rp.36 Juta untuk anggaran Covid-19 Kabupaten. ADD untuk membiayai tunjangan tetap perangkat desa dan BPD. Kemudian Dana Desa di potong 10 juta, dari total 1 Miliar 168 Juta, sisanya 1 miliar 157 juta,” ujar Sekdes Babokerong.

Bacajuga; https://www.mediasurya.com/2020/10/28/ketua-dprd-lembata-hari-listrik-nasional-ada-apresiasi-dan-harapan/

Pemotongan itu dilaksanakan berdasarkan Peraturan Bupati tentang penetapan perubahan Pagu ADD dan Dana Desa. Lampiran Perbup dikirim ke Desa sebagai dasar perubahan RKPDesa dan APBDes.

“Kegiatan pemulihan ekonomi dalam dokumen itu ada, yakni 120 penerima BLT di Desa Babokerong. Tahap pertama sesuai edaran Menteri 600 ribu per kk, per bulan. BLT Tahap 1 saja ada 216 Juta. Kemudian pada tahap kedua dan tahap ketiga sesuai edaran itu 300 ribu rupiah per bulan per kk,” ujar Safrudin.

Pergeseran anggaran luar biasa, sehingga untuk membuat program baru dalam hal ini pemilihan ekonomi kepada KK yang terpapar covid-19, target kita hanya BLT saja. Kalau di luar itu atau buat baru setengah mati anggarannya. Karena ada juga fisik yang dianggarkan.

“kalau pemulihan ekonomi secara khusus tidak ada program. Kami andalkan BLT saja. Karena terbentur di anggaran,” ujar Safrudin.

Baca juga ;https://www.mediasurya.com/2020/10/26/servulus-satel-demoor-s-hut-kadis-lingkungan-hidup-flotim-kebersihan-itu-soal-kesadaran/

Saat ini pihak Desa Babokerong masih menanti Peraturan Bupati tentang penetapan pagu ADD maupun Dana Desa untuk tahun 2021.

Penanganan khusus atas kejadian emergensi di Desa Babokerong hanya pemberian makanan tambahan, pemberian asupan gizi untuk memperkuat imun tubuh, itu saja.

“semua anggaran kita terkuras pada saat kita belum terkonfirmasi. Begitu ada kasus terkonfirmasi covid-19 anggaran kita habis. Batuan khusus untuk pasien terkonvirmasi covid-19 yang saat ini sudah sehat baik dari Kabupaten, Kecamatan maupun Desa memang saat ini tidak ada,” ujar Savrudin Umar.

Pemerintah Desa setempat tetap menganjurkan warga untuk bekerja, memulihkan ekonomi keluarga seperti biasa dengan tetap menjaga jarak dan mematuhi protokol Kesehatan.(MST)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *