Ternak Babi Di Lembata, Terdata 443 Yang Mati Karena ASF

Ternak Babi Di Lembata, Terdata 443 Yang Mati Karena ASF

Mediasurya.com, Lewoleba- Ratusan hewan ternak babi di Lewoleba kabupaten Lembata mati akibat wabah asf namun, penanganan terhadap hewan yang mati belum maksimal di lakukan oleh dinas sehingga, hal ini menimbulkan kecemasan masyarakat baik dari sisi penyebaran virus maupun kesehatan lingkungan.

Baca juga ; Peternak Babi Boleh Tersenyum, Lembata Bebas ASF dan Hog Cholera

Kepala dinas peternakan Kanisius tuak kepada media ini (11/1/2021) mengatakan, agar masyrakat tidak memotong Ternak mati termasuk yang sakit, untuk di konsumsi.

Masyarakat diminta untuk melaporkan ke dinas sehingga pihaknya bisa mengambil langkah antisipatif melalui pemeriksaan dokter hewan, maupun pola pengunduran hewan ternak yang mati akibat wabah ini.

Tuaq mengatakan, saat ini yang terdata Di dalam kota Lewoleba, kurang lebih 400an ekor babi yang mati, itu yang tercatat dan petugas turun namun, yang diam-diam juga banyak.

“Kami tahun 2020 sudah lakukan sosialisasi namun, karena masyarakat anggap remeh ini wabah” ujar kanis.
Ditanya kapan dinas mengetahui adanya wabah ini, Kanis mengatakan sejak bulan Nopember 2020 pihaknya telah mendeteksi awal ada wabah ini. Saat ini kami terus berupaya menjaga agar wabah tidak menyebar ke wilayah kecamatan lain terang kadis peternakan.

Sementara soal lahan untuk dijadikan kuburan masal bagi bangkai hewan ternak babi yang mati, kanis mengatakan sedang melakukan Koordinasi ke pak sekda minta petunjuk namun demikian Kanisius tuaq pun masih merasa kewatir atas sikap masa bodoh masyarkat yang cukup tinggi.

“Kita arahkan untuk kubur msing-masing kalau satu dua ekor namun, jika banyak maka memang tidak bisa dilakukan Kubur mandiri. kita punya lahan masih luas cuma, masyarakat malas untuk gali” ujar kanis Tuaq.

Baca juga ;Budidaya Pala Trobosan Yosep Blida, Penjabat Kepala Desa Doripewut.

Kalau buang bisa sebabkan penyakit baru baik ke manusia juga ke ternak.
Himbauan sudah kita lakukan cuma kesadaran msyarakat masih rendah. Kalau DLH punya Eksa kami punya lahan untuk bisa dimanfaatkan. Dan Pelayanan kita masih berjalan meski sedang persiapan merjer.

Kanisius Tuaq yang ketika ditemui media ini di dampingi tenaga lapangan peternakan Katarina Ideal menjelaskan, untuk bangkai-bangkai ternak yang mati ini, kita lagi antisipasi untuk lahan namun, Kita kekurangan anggaran untuk urusan ini.

Media ini mengatakan, ada informasi yang berkembang di masyarakat bahwa telah terjadi pembiaran oleh dinas karena terdeteksi bulan Agustus ada ternakasuk dari kabupaten Alor.

Baca juga ; Sekda Lembata,; ” Terkait Besaran Honor Bupati, Ditetapkan Sesuai Perpres 33 Tahun 2020″

Kanisius menjelaskan, memang ada babi dari Alor bulan itu tahun lalu namun, kita sudah pantau dan kita suruh pulang. Karena waktu itu tidak ada satu suratpun yang di kantongi oleh pihak yang membawa masuk ternak babi.

Namun setelah itu atas pertimbangan kemanusiaan kita ijinkan tapi babi terdahulu dikarantina lalu diambil sampel darah dan hasilnya negatif.

Ada dua ekor babi dari Alor waktu itu, satu di wangatoa mereka potong makan dan di rayuan yang di piara.
Kasus ledak wabah ini awal di Adonara, kalau perkiraan saya dari sisi dagang maka ini upaya yang dilakukan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Tapi karena ini terjadi di seluruh Indonesia, maka saya tidak mau berpikir demikian.
Tapi saya punya kesimpulan masyarakat tidak tertib terhadap himbauan pemerintah terang kanisisu Tuaq.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *