Keluarga Ikhlaskan Kepergian Nenek Tuto, Tapi Sesalkan Kebijakan RSUD Lewoleba dan RS Bukit.

Keluarga Ikhlaskan Kepergian Nenek Tuto, Tapi Sesalkan Kebijakan RSUD Lewoleba dan RS Bukit.

Mediasurya.com,Lewoleba- Satu lagi pasien yang dinyatakan positif covid 19 oleh pihak medis akhirnya meninggal dunia saat di rawat di ruang IGD RSUD Lewoleba.

Baca juga ; Sosialisasi Vaksin Covid 19, Pemda Lembata Minta Masyarakat Tidak Percaya Hoax

Nenek Veronika Tuto, (76) tahun warga desa Jontona kecamatan Ile Ape meninggal dunia di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Lewoleba, Jumat (29/1/2021) setelah sebelumnya oleh pihak media nenek tuto di nyatakan terpapar covid 19.

Sandro Balawangak kepada media, menjelaskan bahwa neneknya memiliki riwayat sakit jantung dan lambung. Keluarga sempat membawa almarhumah ke Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Kamis (28/1/2021).

Baca juga ; Cegah Penularan Covid 19, Danramil 1624-04/Omesuri Bersama Anggota Dan Tenaga Kesehatan Turun Lapangan Sosialisasi Vaksin Covid 19, Juga Tertibkan Penggunaan Masker

Di rsu Bukit Lewoleba oleh dokter nenek saya di nyatakan positif covid 19 terang sandro yang adalah cucu almarhumah.

“setelah melewati beberapa tes termasuk hasil rapit antigen di Rumah Sakit Bukit nenek saya dinyatakan reaktif, karenanya oleh rsu bukit di rujuk ke RSUD Lewoleba sebagai rsu Rujukan Covid 19 dan Sekitar jam 21.00 Wita, kami tiba di RSUD Lewoleba,” paparnya.

Sandro Balawangak mengaku hanya mengenakan alat pelindung diri berupa mantel hujan. “Mantel hujan ini saya anggap sebagai pelindung diri juga. Karena kenapa sudah dinyatakan reaktif rapit antigen, tapi keluarga masih diijinkan kontak langsung dengan beliau?” ujarnya, heran.

Baca juga ; Lakukan Kunker Ke Dermaga Laut Lewoleba Dan Balai Pengujian Kendaraan, Ketua DPRD Lembata Janji Akan Sampaikan Masukan Ke Pemerintah
Sampai di RSUD Lewoleba pun tak bedanya. Nenek Veronika Tuto pun tetap dirawat di ruang IGD. “Petugas medis pasang infus dan oksigen di ruang IGD. Kami keluarga pun tidak dilarang kontak langsung dengan pasien,” ungkap Sandro.

Pihak RSUD Lewoleba juga melakukan rapit antigen. Hasilnya tetap sama. Reaktif. Sehingga dilakukan swab. Dan, tiga kali swab hasilnya sama. Positif. “Sehingga nenek kami dinyatakan positif Covid. Dokter Bayu beri penjelasan kepada saya, tapi tanpa memberikan hasil rapit reaktif ataupun hasil swab yang positif itu. Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba tidak kasih tunjuk kami keluarga hasil rapuit maupun swab itu,” ungkap Sandro.

Menurut dokter, papar Sandro, jantung neneknya sudah parah. “Sampai tadi pagi, masih dua kali rekam jantung. Sebelumnya juga sudah roentgen,” ujarnya.
Sandro menegaskan bahwa dirinya akan ikut dalam proses penguburan neneknya dengan protocol kesehatan yang ketat. “Masalah Covid ini bukan hanya tanggungjawab petugas medis. Kita semua harus ikut bertanggungjawab. Sehingga saya memastikan akan ikut terlibat membantu petugas dalam penguburan nenek kami,” ungkap Sandro.

Baca juga ; Di Lembata, TNI Dan Polri Kompak Patroli Protokol Kesehatan.

Sandro, yang juga wartawan weeklyline.net ini, menyampaikan permohonan maafkan kepada sesame rekan jurnalis karena dirinya sudah berkontak langsung dengan penderita Covid-19. “Saya akan melakukan rapit antigen dan swab, dilanjutkan dengan karantina mandiri selama 14 hari kedepan,” ujarnya melalui Whatsapp.

“kami keluarga sudah ikhlaskan kepergian nenek kami, namun kami sesalkan kebijakan rsu bukit maupun RSUD yang tetap membiarkan kami keluarga kontak langsung dengan nenek tuto meski telah dinyatakan positif covid 19” ujar Sandro.

Media ini beberapa kali coba menghubungi direktur RSUD Lewoleba, Bernadus B Punang namun, hingga berita ini di siarkan belum berhasil media ini meminta komentar sang direktur.

Share

15 thoughts on “Keluarga Ikhlaskan Kepergian Nenek Tuto, Tapi Sesalkan Kebijakan RSUD Lewoleba dan RS Bukit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *