AMETPRAT, RITUAL PENGAKUAN DAN PERMOHONAN WARGA NELEBLOLONG ADONARA, KEPADA GUNUNG ILEBOLENG DI DESA HELANLANGOWUYO

Mediasurya.com,Adonara – Ritual Ametprat (permohonan dan pengakuan/maaf) bagi 63 warga desa Neleblolong Pukaone kepada penjaga Gunung Boleng, sebagai pengakuan dan permohonan maaf atas kekeliruan, kekilafan atau mungkin pula beberapa kesalahan di puncak Gunung pada masa lalu yang, diyakini mendatangkan Murka alam hingga terjadinya Banjir Bandang yang mencari Mangsanya pada 4 April 2021 silam.

Baca juga ; Benarkah Ada Misteri, Di Banjir Bandang Lamanele Adonara?

Rangkaian acara yang dipandu oleh Jon Payong berlangsung dengan baik. Turut hadir pada acara ametprat, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur Petrus Pemang Liku Watan,S.sos MT bersama Keluarganya.

Dalam Hajatan Rutin bagi warga masarakat yang telah melakukan beberapa kesalahan di puncak Gunung pada masa lalu yang diyakini dengan akibat Murka alam terjadinya Banjir Bandang yang mencari Mangsanya pada 4 April 2021 silam . Ranglaian acara ametprat di Desa Helanlangowuyo ini, pada putaran ke-5 dari 72 Desa yang telah datang dan mengakui lesalahan mereka kepada Penjaga Gunung di Desa Helanlangowuyo .

Dalam Sambutan Kepala Desa Helanlangowuyo Dominikus Daton Doni menyampaikan, beberapa soal yang sering disampaikan para pihak di berbagai media salahsatunya terkait keterlibatan Pemerintah Desa dalam menjalankan Ritual adat ametprat ini.

Daton Doni menjelaskan bahwa “Jika kalian hanya berbicara diluar dan tidak mau datang sendiri kehadapan para pemangku adat maka usul saranmu tidak bakal diakomodir oleh para sesepuh di rumah adat ini, sementara ada pun pihak tertentu menilai hajatan ini terkesan hura hura, lantaran bencana ini masih menyisakan kesedihan yang mendalam, Daton Doni menegaskan bahwa orang lamaholot tetap berpegang pada adat istiadat.

“Biarkan saja jika ada pihak yang tidak meyakini, tetapi bagi saya dan orang lamaholot lainnya, adat menjadi panglima terdepan dalam urusan hajat hidup ” tegas Daton Doni.
Sesungguhnya yang menumbuh kembangkan kehidupan kita orang lamaholot hingga saat kini. Tidak dapat dipungkiri bahwa Budaya Adat lamaholot ini telah menjadikan anak lamaholot sebagai pribadi yang di hormati dan di segani oleh bangsa lain, namun banyak faktanya bahwa anak anak lamaholot itu sendiri mengingkarinya hanya karena egosentris mulai menguasai jalan pikirannya, urai Daton Doni.

Baca juga ; AMETPRAT, RITUAL PENGAKUAN DAN PERMOHONAN WARGA NELEBLOLONG ADONARA, KEPADA GUNUNG ILEBOLENG DI DESA HELANLANGOWUYO

Atas Dasar Menjaga Nama Baik dan Harkat serta Martabat Desa Helanlangowuyo saya tegaskan bahwa sebagai Kepala Pemerintah Desa dan atas Dasar amanat UU nomor 6 tahun 2014 kembali saya sampaikan bahwa segalah upaya demi tetap berjalannya Ritual di desa ini dengan penuh rasa hormat kepada sesepuh di dalam Desa ini; hingga adanya selentingan miring bahwa kenapa harus Daton Doni yang mesti bicara maka jawabannya adalah Karena Daton Doni saat kini adalah Kepala Desa Helanlangowuyo, tandasnya. Dalam menanggapi ocehan warga Lamahelan yang berada di luar sana, kembali Daton Doni menanyakan perihal sumbangsih anak kandung Lewotanah diluar sana terhadap Hajatan adat dan tradisi yang terjadi di desa ini?

Sementara kegiatan ini melibatkan ke-15 suku yang berada di Desa ini semenjak awal mula telah bersama sama bahu membahu bergandengan dalam mempertahankan Kampung halaman ini serta Helanlangowuyo itu sendiri

Menguraikan Tugas tugas ke sembilan sesepuh di puncak Gunung Boleng yang dipredikatkan “Mehenè Suku” punya Tupoksi memberi makan leluhur di 12 titik sakral adalah dari 7 suku yakni Suku Langowuyo ada dua orang(kampung asal di puncak gunung: Bao Knirek), suku Lamanele 4, ada dua orang (asal kampung Nele), suku Taran wanan, satu orang, suku Taran Nekin(asal kampung Rianwale), suku ata mukin(asal kampung lama yang namanya Namane),suku Tulit Watun(bagian penguasa laut dengan sebutan”Har’in ),berikut adalah suku Bala Makin.

Dengan keterlibatan para Pemangku adat dari masing masing suku atau klen ini, membuktikan bahwa leluhur Ola Ile Hidup dengan penuh Tatakrama, dan telah ditunjukan kepada Dunia bahwasannya di Daratan inilah asal muasal Peradaban manusia dan memulai kehidupan mereka di dunia ini.

Penulis ; Bernad naragere# editor ; mediasurya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *