Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam

Eksplorasi Budaya Lembata, Berdamai Dengan Alam
Bagian I


Mediasurya.com,Lewoleba_Upaya pemerintah daerah kabupaten Lembata meminimalisir kerusakan alam dengan sare dame dianggap menjadi salah satu solusi meskipun masih ada pro kontra namun demikian langkah ini terus di jalankan. Baca juga ;
Ditunjuk Jadi Ketua Partai Kebangkitan Nusantara Cabang Lembata, Jufri Lamablawa Target Menang di 2024.
Penolakan masih terus mengalir namun demikian niat pemerintah untuk berdamai dengan alam berbasis kearifan lokal juga tetap bergulir. Apa itu sare dame?
Berikut penjelasan Bupati Lembata, Dr. Thomas Ola Langoday.SE.M.Si tentang sare dame saat diwawancara media ini (31/12/2021) dirumah jabatan.
Eksplorasi adalah mencari, dan apa yang kita cari? Nila-nilai yang luntur dalam perkembangan hidup.
Bupati Thomas menjelaskan, selama ini sebelum menjadi bupati maupun setelah kemana-mana disambut dengan seremonial.
Dikampung-kampung saat kampanye selalu ada seremonial minta restu,mohon perdamaian, minta berkat dan sebagainya. Dan hal ini dilakukan oleh mereka yang sudah tua atau pada suku-suku tertentu.
Pertanyaannya apakah anak muda, anak sekolah kita sekarang memahami budaya itu?
Hari ini salah satu kerusakan paling besar adalah pada alam kita baik darat,laut dan udara. Bayangkan segala sesuatu sekarang ini serba kimiawi.
Main semprot misalnya dikebun, memang rumput mati tapi tanah kita juga ikut mati dan tidak mengandung hara lagi.
Tanah itu ibu bumi, kalau saja tanah itu bisa bicara mungkin yang dikatakan adalah, anak e kenapa engkau beri saya racun? Dan kita berkonflik dengan alam. Dengan tanah. Baca juga ;Pemuda Rumang Minta Bupati Lembata Copot Kepada Desa
Maksud saya kita mencari nilai-nilai, bahwa setiap kali kita tebang pohon harus lakukan sermonial sare dame.
“Ina, Ama kami mohon maaf mungkin kata yang kita awali…..itu kalau di syair budaya Lembata seperti apa? Nilai-nilai ini yang mau kita gali.
Saya yakin satu waktu, jika kita tidak lakukan ini, anak cucu kita akan hidup sengsara, karena kita tinggalkan tanah yang tandus, ibu bumi yang sudah mati karena kita tidak berdamai dengan dia.
Hanya untuk kejar produksi kita main semprot, potong hutan jadi mari kita jaga keseimbangan dengan sare dame. Itulah maksud saya tegas Bupati Thomas.
Kemudian di laut, bahan kimia yang kita semprot di darat di bawah banjir ke laut, lamun mati,terumbu karang mati,teluk kita mati lantas apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Jangan kita wariskan kemelaratan dan kesengsaraan. Maka ada kearifan lokal seperti Badu,muro bisa kita angkat. Dan kira-kira saat mereka lakukan seremonial itu seperti apa? Syairnya seperti apa? Itulah tujuan yang mau kita lakukan sekarang
Eksplorasi Budaya Lembata adalah polici brief dan akan menjadi rambu yang kita wariskan bagi generasi kita yang akan datang.
Kalau potong kayu di hutan, ambil batu di kali,buka kebun tentu ada bahasa yang harus di sampaikan ke alam nah, itu bahasanya seperti apa? Ametprat,pae Boe syairnya seperti apa? Doanya,kata-kata seperti apa, itu yang mau kita wariskan.
Sekrang ini persediaan udara berkurang,ozon kita menipis karena bakau kita tebang, semua rusak semua gunakan bahan kimia, sehingga tidak lagi ada penyaring di udara. Mari kita sare dame dengan alam laut,udara dan darat.
Saya yakin orang tua kita tahu syairnya peserti apa tapi belum di maksimalkan. Kalau boleh di buat dalam tulisan. Atau dalam tarian, gerakan seperti apa? Ini yang mau kita pentaskan pada sepekan 7 Maret.
Dan yang patut diingat adalah soal 7 Maret itu sudah selesai, soal Panji demon sudah final kita tidak sedang membuka cerita lama tapi yang kita mau angkat adalah kearifan lokal yang bisa di wariskan kepada anak cucu kita.

mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

2 komentar pada “Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam

  • 3 Februari 2022 pada 4:28 am
    Permalink

    Paham dare dame, sebenarnya merujuk pada sikap atau perbuatan yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan Dan ketersediaan yang Alam berikan. Dalam tradisi orang kedang sebagai contoh, Ada ungkapan” ka ihin podoq lurin, ” artinya jangan sampai habis jika kita hendak mengambil sesuatu dari alam. Terkadang hasil melimpah Karena teknologi namun tidak bertahan lama. Misalnya menggunakan racun.Paham yang paling kuat adalah melihat bumi sebagai saudari. Kalau Lembata sebagai pulau Ibu yang melahirkan maka sudah saatnya kita selamatkan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.