Prosesi Binen Ma’ing, Dalam Ritual Ebe Nikah, Are Kawin Desa Kalikur

Media Surya–
Jumad,18 Februari 2022
Prosesi Binen Ma’ing dalam ritual Ebe Nikah Areq Kawin yang di gelar Warga Desa Kalikur,Kecamatan Buyasuri Dalam Explorasi Budaya.
Mediasurya.com,Buyasuri_Explorasi budaya Lembata, yang digelar di Desa Kalikur kecamatan Buyasuri mendapat sambutan positif, dengan prosesi Binen Ma’ing dalam ritual “Ebe Nikah,Areq kawin’. Baca juga ; Explorasi Budaya Lembata, Amin Hasan Kades Kalikur ; ” Tidak Ada Pungutan Liar”

Amrunur M. Darwan secara apik menghidupkan suasana saat memandu acara explorasi budaya dalam pentas prosesi Binen Ma’ing di desa kalikur.

Sementara itu, Kepala desa kalikur, Amin Hasan kepada media ini menjelaskan para tetua kampung yang “tebeq ote lipu loloq ” (duduk di atas bale-bale bambu) untuk pementasan prosesi Binen Ma’ing Anatar lain ;
– Bapak Tuang Isnin dari suku Huniero/wuakero dengan sebutan kero lamabura,lako lamamengi.
– Bapak kharudin Kuma dari suku Leuweru/paokuma,dengan sebutan kuma lamamengi,se’ung lamadolor.
– Bapak Muh.Darwan Muslih dari suku leutuang/sarabiti dengan sebutan ikut lama koma,waheng lama bera.
– Bapak Hasan Ali Bahmid dari suku Dapubeang/Lamawulo dengan sebutan dapulamabeang,beang Lamawulo.
– Bapak Sarung Mado dari suku Leutoang/Lamatokan dengan sebutan tokang Ile pukeng,kowa-kowa Mai.
– Bapak Muhamad Pala dari suku Marisa dengan sebutan Risa lelewerang,serang ula nagga. Baca juga ; Terkait Explorasi Budaya, Petrus Bala Wukak, ;”Saya Minta Bupati Bicara Pelan-Pelan Agar Terukur”

Tahapan prosesi Binen Ma’ing dalam pegelaran explorasi budaya dibuka oleh bapak Danra Dato sebagai ketua Lembaga adat Desa Kalikur.

Amin Hasan kepala desa kalikur menjelaskan, tahapan pertama dalam prosesi Binen Ma’ing seturut tradisi kalikur diawali dengan, “Tada Mato Lalang wau” perkenalan/pertunanganan yang dilakukan oleh keluarga inti dan kepala suku masing-masing pihak dengan hasil yang diharapkan adalah “dahang tuan hunaq/wanita pujaan hati. Jika setuju atau sepakat maka prosesi dilanjutkan dengan “E’a niho Mato loyo/dahang rehing atau peminangan.

Untuk acara peminangan, dalam tradisi kalikur tidak hanya diikuti oleh keluarga inti dari suku-suku yang akan menikahkan anaknya tapi juga suku-suku kaleq mataq kalikur, suku Pitu lelang leme atau 9 suku yang menempati desa kalikur.

Langkah selanjutnya setelah peminangan adalah Ebe nikah Areq Kawung (pernikahan) dengan kesepakatan adat sesuai tradisi yakni Unang bala laong wereng atau mahar gading sebagai simbol penghormatan dan penghargaan kepada wanita sebagai manusia yang dimuliakan atas segala bentuk penghormatan pada diri si wanita dan keluarga. Baca juga ; Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam

Sehari sebelum pelaksanaan ebe nikah Areq kawin’ didahului dengan “Uma rotang” (hantaran) oleh Ma’ing atau pihak laki-laki.
Dalam proses Uma rotang atau hantaran disertai teduq witing bare bala (tarik kambing jantan dan pikul gading) oleh keluarga Ma’ing pihak laki-laki sesuai keputusan adat ke pihak Ine ame atau keluarga perempuan.

Bare bala bermakna, penghargaan terhadap harkat dan martabat wanita, mahal dan mulia serta terhormat.
Sementara Teduq witing (tarik kambing jantan) mengandung arti keberanian,dan tanggungjawab seorang laki-laki yang siap menjadi pemimpin bagi istri dan keluarga kecil yang siap kan dibangun. Baca juga ; Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam

Dalam prosesi Uma rotang atau hantaran juga disertakan, Napa luni (tikar bantal) dan ue mal(siri pinang) pernikahan.
Napa luni (tikar bantal) hanya di junjung oleh Binen anaq (saudari dari pria yang akan menikah). Sementara ue mal(siri pinang) dibawa oleh Ine ehoq ( anak dari bibi garis keturunan bapak).

Napa luni melambangkan penyatuan dua anak manusia, laki-laki dan perempuan dan ue mal(siri pinang) mengandung makna jati diri laki-laki bahwa upacara pernikahan telah dituturkan dan diputuskan secara adat budaya oleh para tetua adat.

Setelah melangsungkan pernikah secara agama, puncak prosesi Ebe nikah Areq Kawing adalah perempuan diantar keluarganya ke suami dan suku sang lelaki yang telah dinikahi membawa serta mihir mawar atau balasan atas mahar bala (gading) yang diserahkan oleh pihak laki-laki.

Berita terkait ; Di Duga Akibat Penjadwalan ulang APBD 2022, Orang Kurang Mampu Di Lembata Dilarang Sakit.

Hans Keraf Orang Muda Lembata, Yang Bangun Sekolah Alam

Amin Hasan mengatakan tardisi ini sengaja diangkat dalam explorasi budaya karena generasi saat ini banyak yang tidak mengetahui tahapan dari proses adat menuju ke pernihan.

“Estimasi kami yang hadir mungkin 150 orang tapi hari ini yang ada di pelataran desa kalikur kurang lebih 500an orang termasuk anak sekolah, dan remaja” ujar Amin.

Antusias warga ini lebih disebabkan oleh rasa ingin tahu prosesi lengkap ritual Ebe nikah Areq kawin’ seturut tradisi desa kalikur. (mediasurya)

mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.