Buku Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonomi, Karya Intelektual Anak Lembata Beraroma Diskrimintif?

Mediasurya.com,Lembata || Buku sejarah Lembata yang mengulas banyak hal tentang Lembata, sejak masa lampau hingga masa otonomi hari ini, dikemas dalam tulisan sebagai karya intelektual putra Lembata asal Atadei, Thomas Ataladjar patut mendapat apresiasi karena, karena telah memulai membuat catatan sebagai pemicu dan sekaligus pengingat bagi semua kalangan masyarakat Lembata untuk tidak melupakan sejarah.

baca juga ; Tidak Benar, Launching Buku Lembata Dalam Pergumulan Sejarah Dan Perjuangan Otonomi, Bermuatan Politik

Tidak Ada Buku Sejarah Yang Sempurna, Thomas Seakan Tak Yakin, Sulaiman Hamzah Meneguhkan. Catatan Tentang Buku Lembata Dalam Pergumulan Sejarah Dan Perjuangan Otonomi

Buku setebal 552 halaman yang terangkai dalam 25 bab, sepenuhnya di biayai oleh H.Sulaiman Hamzah salah satu putra lembata asal Ileape yang, menjadi politisi partai Nasdem dan kini berkarya di Senayan, DPR RI mewakili masyarakat Papua pun, mendapat apresiasi atas karena membantu penulis sejarah Lembata menyelesaikan karya intelektualnya.

Beni Labi salah satu tokoh muda Kedang kepada media ini menjelaskan, ada beberapa hal yang, diharapkan perlu mendapat perhatian serius untuk di luruskan. Ada nuansa Diskrimintaif dihalaman awal. Seperti pada bagian sapaan, disitu yang disapaan hanya kepada kaum Lamaholot, padahal di Lembata ada juga etnis lain yang turut memberikan andil dalam perjuangan otonomi Lembata.

Pada halaman awal buku tersebut, dengan judul persembahan tertulis, “kupersembahkan dengan rendah hati, penuh hormat dan kasih karya ini buat ; Lewotanah tercinta. Pertanyaannya apakah Leu auq bukan bagian dari Lembata sehingga tidak disapa?

baca juga ; Transportir Sekaligus Distributor BBM Lembata, PT Hikam Akui Ada Masalah Keuangan. Mungkinkah PT. Hikam Terancam Bangkrut?

Demikian pada halaman sekapur siri, sapaan hanya di tujukan kepada Ina,ama, Kakan Arin, Opu lake, bine nole warga Lewotanah, lantas dimana posisi Ino,amo, ineame, ,epu bapa,binen maing? Tanya Beni.

Buku yang diharapkan juga bisa masuk dalam mulok dan disebut-sebut sebagai sebuah karya monumental ini, tidak bicara Lembata sebagai satu kesatuan? Ada apa?

Bahwa ada dua tokoh Kedang juga memiliki catatan dalam buku tersebut yakni, Viktus Murin dan Prof Alo Liliweri tetapi bagaimanapun secara leu (kampung/atnis) Kedang tidak disebut menimbulkan aroma diskriminatif.

Berbeda dengan itu, Maxi Making tokoh Muda Ile ape melalui pesan singkat whatsup (wa) mengatakan, setiap orang yang memiliki Niat tulus untuk, mendukung terbitnya buku ini, sangat kita apresiasi. Tetapi kita juga mesti realistis dan tidak menafikkan muatan politis yang tersirat di dalamnya.

Dan bacaan politis ini buat saya wajar saja karena, kepentingan politik selalu bermuara pada kekuasaan. Dan untuk mencapai itu selalu ada banyak ruang yang dipakai untuk mengaktualisasikan diri dengan niat baik yang dimiliki oleh seseorang. Artinya tidak perlu juga ada bantahan yang seolah muatan politis dalam hal ini menjadi sesuatu yang haram.

Buat saya sangat wajar bila dianggap ada muatan politis dengan asumsi sederhana bahwa, ini dilakukan oleh seorang politisi, yang sedang bekerja dan berkiprah dalam dunia politik. Bukankah sebuah proses edukasi dan literasi juga merupakan bagian yang tdk terpisahkan dalam proses komunikasi politik??? Toh, lahirnya kabupaten Lembata saja merupakan hasil dari sebuah proses politik koq. Pungkas Making.

***



mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

One thought on “Buku Lembata Dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonomi, Karya Intelektual Anak Lembata Beraroma Diskrimintif?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *