Mediasurya.com,Lembata || Langkah Maju pemerintah Daerah kabupaten Lembata melalui dinas pendidikan dengan kurikulum lokal berbasis budaya oleh banyak pihak Diapresiasi terlebih ketika dinas akan mewajibkan sekolah di Lembata menggunakan Bahasa Daerah Sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

Baca juga ; Terkait Pungutan 500 Ribu Untuk Seminar Budaya Dan Pekan Seni Budaya, Kadis Pendidikan Lembata Akui Dirinya Nyaris Terjebak

Tidak Benar, Launching Buku Lembata Dalam Pergumulan Sejarah Dan Perjuangan Otonomi, Bermuatan Politik

Kepala dinas pendidikan Lembata, Anselmus Ola Bahi menegaskan bahwa, Kebijakan itu akan termuat dalam peraturan bupati (Perbup) Lembata.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Anselmus Asan Ola mengatakan penerapannya bisa dipilih antara hari Jumat atau Sabtu menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pelajaran di sekolah.

“Bahasa daerah yang digunakan disesuaikan dengan wilayah masing-masing,” kata Anselmus usai melaunching secara resmi pelajaran muatan lokal berbasis budaya di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Selasa, 11 Oktober 2022.

Pemerintah daerah juga sudah melaunching bahan ajar muatan lokal berbasis budaya Lembata. Selanjutnya, pemerintah bersama Universitas Muhamadiyah Malang akan melakukan uji coba di beberapa sekolah yang dijadikan sebagai pilot project. Rencananya satu kecamatan satu sekolah sebagai pilot project. Setalah itu baru dilakukan evaluasi.

Baca juga ; Transportir Sekaligus Distributor BBM Lembata, PT Hikam Akui Ada Masalah Keuangan. Mungkinkah PT. Hikam Terancam Bangkrut?

Dr Baharuddin, Mpd dari Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan, pada kesempatan tersebut menegaskan harus dipastikan kalau semua perubahan berawal dari pendidikan.

“Kurikulum ini hanya capaian pembelajaran. Capaian pembelajaran akan diturunkan ke tujuan pembelajaran oleh guru. Dokumen ini hanya contoh dan inspirasi. Guru bisa susun rencana pembelajaran sendiri atau modul ajar,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan muatan lokal per wilayah, kata Burhanuddin, guru bisa membuat modul yang khas dengan wilayah tersebut. Tidak harus sama dengan wilayah lain.

“Mulok juga terintegrasi ke semua pelajaran dan nilai nilai pancasila. Kurikulum Merdeka ini hanya inspirasi,” katanya.

Profesor Yus Mochamad Cholily, M.Si dari Universitas Muhamadiyah Malang, menekankan empat hal penting dari penerapan muatan lokal kepada peserta didik.

Pertama, keteladanan dari para guru. Kedua, ketika ada keberagaman maka perlu ada penghargaan. Ketiga, menyampaikan bahasa yang positif. Keempat, memperbanyak ruang ekspresi bagi para peserta didik.

By mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *