Ritual Iu Uhe Bei Ara : Memberi Makan Alam

Media Surya–
Minggu, 20 Februari 2022
Ritual Iu Uhe Bei Ara (memberi makan nenek moyang/alam) cara orang Kedang menjaga keselarasan dengan Alam.
Mediasurya.com,Buyasuri_ Ritual Iu Uhe Bei Ara memberi makan alam diselenggarakan di Desa Benihading 1 sebagai salah satu dari rangkaian Ritual Adat 10 Komunitas Adat dalam even Eksplorasi Budaya Lembata Lembata 2022, Senin 14 Februari 2020. Baca juga ; Prosesi Binen Ma’ing, Dalam Ritual Ebe Nikah, Are Kawin Desa Kalikur

Iu Uhe Bei Ara merupakan ritual adat memberi makan leluhur nenek moyang dan raja/penguasa bumi yang berada dalam lapisan bawah tanah. “Arti kata-kata dari “Iu Uhe Bei Ara”. Iu berarti masak, Uhe berarti Alam bawah tanah, Bei artinya menuangkan tuak dan Ara berarti Isi tanah/inti bawah/lapisan bawah tanah”, seperti dijelaskan oleh Paulus Leu Beniehaq, seorang Molan (dukun/pemangku adat) dalam ritual ini.

Paulus menerangkan bahwa sajian dalam ritual ini berupa nasi loma (nasi yg dimasak dalam bambu muda), ikan kering yang dibakar, anak ayam yang berumur kurang dari tiga hari dan tuak. Semuanya dimasak dengan api yang dibuat secara tradisional dengan cara menggesekkan dua bilah bambu sehingga menghasilkan panas dan percikan api.

Ritual ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Raja Bawah Tanah yang telah memberi hidup berupa hasil tani dan ternak. Baca juga ; Di Duga Akibat Penjadwalan ulang APBD 2022, Orang Kurang Mampu Di Lembata Dilarang Sakit.

“Kita dikasih makan, sebaliknya kita mempunyai kewajiban untuk memberinya makan”, papar Paulus.

Paulus juga mengungkapkan perasaannya mewakili seluruh masyarakat kampung yang tergabung dalam Desa Benihading. Ia merasa bangga karena ada perhatian dari Bupati (Pemerintah) terhadap ritual-ritual adat. Ia menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya tidak ada halangan dan direstui oleh leluhur leu auq. “Saya sangat mengharapkan event ini tetap dilaksanakan secara rutin agar tetap diingat dan diwariskan ke anak cucu.

Menurut Wulakada Abdul Rezak, Tetua Desa Benihading menjelaskan bahwa ritual ini dapat dimaknai sebagai bentuk harmonisasi dengan alam. “Kehidupan harmonis dengan alam tetap dilestarikan mengingat banyak manusia yang hidup telah banyak mengabaikan alam”, ujar Bapak yang telah menerbitkan beberapa buku tentang Sejarah dan Kebudayaan Kedang ini.

Kalangan Akademisi asal Lembata yang turut hadir, Wilhelmus Ola Rongan, mempunyai kesan bahwa komunitas adat kita masih terpelihara dengan baik dalam masyarakat walaupun kehidupan sosial sudah berkembang.

Selain itu, ia menyimpulkan bahwa adat dan kebudayaan kita sebenarnya mempunyai ciri khas yang mempunyai nilai-nilai luhur yaitu Menghargai pemimpin, baik itu pemimpin adat maupun pemimpin pemerintahan.

Selebihnya ia menyimpulkan bahwa Pemimpin komunitas adat dipilih dan dituntut oleh Tuhan dan sejatinya dengan tujuan mulia yaitu membentuk karakter kepemimpinan yang baik.

“Karakter pemimpin-pemimpin ritual adat harus memenuhi syarat yaitu harus jujur, tidak rakus/materiallistik, dan bersih secara pribadi dan lingkungan sosialnya, dan menjadi contoh untuk pemimpin-pemimpin di pemerintahan”, ujar Dosen STKIP Widia Wina Madiun Jawa Timur ini.

Selain itu, Dr. Hipolitus Kewuel, Antropolog dari Universitas Brawijaya menilai bahwa kita harus belajar dari ritual ini untuk selalu bersyukur dan rendah hati untuk meminta maaf kepada yang empunya tanah. ” Di atas tanah ini kita dapat makan, bertempat tinggal dan menjalani kehidupan. Kita perlu dengan rendah hati meminta maaf kepada tanah tempat kita berpijak, jika selama ini kita telah membuat tanah ini sakit”, Ujarnya.

Dalam sambutannya, Bupati Lembata mengatakan pesan bahwa seluruh ritual dilakukan untuk ditinggalkan kepada anak cucu kita. Beliau mengajak untuk mengumpulkan nilai-nilai adat dan budaya yang terpencar selama ini dan akan menjadikannya sebagai kekuatan dahsyat.

“Mari kembali refleksi diri sendiri bahwa kita harus hidup selaras dengan alam yang merupakan pesan dari leluhur”, pesan Thomas .

Thomas juga menyampaikan bahwa terdapat pesan moral agar kita gotong royong, harus bersatu padu, berkerja bersama sesuai dengn peran masing-masing seperti yang tergambarkan dalam ritual adat Iu Uhe Bei Ara ini.

Penyelenggaraan Ritual ini juga diselingi oleh Atraksi Tari Dera Lili yg dibawakan secara apik oleh siswa-siswi SDI Panama, dan Tarian yang dipentaskan Sanggar Seni Suri Wula Desa Roho.

mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

4 komentar pada “Ritual Iu Uhe Bei Ara : Memberi Makan Alam

  • 28 Juni 2022 pada 10:10 pm
    Permalink

    Its like you learn my thoughts! You appear to know so much approximately this, like you wrote the e-book in it or something. I feel that you could do with a few percent to pressure the message house a bit, but instead of that, that is wonderful blog. An excellent read. I’ll definitely be back.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.