Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam
Bagian II
Mediasurya.com,Lewoleba_ Bupati Thomas tegas mengatakan, Sare Deme bukan kita sedang mengungkit luka lama, ingat Paji – demon itu sudah usai. Itu sudah final.
Memang jika kita pertanyakan, apakah rasa itu sudah punah? Tentu jawabannya tidak karena masih ada pertentangan antara mulut,batin dan hati kita. Baca juga ; Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam
Masih ada pertentangan antara mulut dan perbuatan kita. Antara baik dan tidak baik masih tetap ada. Disinilah maksud saya agar kita wariskan hal-hal positif dan baik kepada anak cucu kita.
Bahwa untuk kegiatan sare dame Ekplorasi Budaya Lembata ini butuh dana, ia.
Bagaimana kita mengumpulkan orang tua di kampung-kampung, kita harus mampu menghidupkan lembaga adat sebagai sebuah piranti menjadi sebuah kekuatan.
Di kampung-kampung lembaga adat selama ini, hanya diminta saat diperlukan karenanya kita inginkan agar mereka menjadi bagian dari pemerintahan desa dalam pembangunan itulah maksud saya urai mantan wakil bupati Lembata ini
Dikatakan Bupati Lembata ini bahwa, nantinya juga akan ada prosesi laut, hal ini dilakukan untuk memperkenalkan pada anak cucu kita bahwa teluk hadakewa itu kaya, teluk Balauring juga luar biasa. Nah ini tentu punya bahasa adat yang kalau di syairkan bagaimana ya? Tanya Langoday. Baca juga ; Ditunjuk Jadi Ketua Partai Kebangkitan Nusantara Cabang Lembata, Jufri Lamablawa Target Menang di 2024.
Kelompok muro, Ino akan kita angkat dalam kearifan lokal menjadi warisan budaya tak berbeda. Saya minta ke kementrian agar kearifan lokal kita bisa masuk dan menjadi keraifan nasional.
Sare Dame, eksplorasi budaya Lembata mau mengajak semua kita Hidup selaras alam laut,darat dan udara. Kita libatkan 144 desa dimana setiap kecamatan sebagai koordinator hal ini kita lakukan karena jika semua dilibatkan maka anggaran kita tidak cukup.

Soal bencana yangenimpa Lembata, Langoday mengatakan apakah ada orang atau Lembaga dat yang bisa menghentikan? Jawabnya ia. Namun tentu kita perlu persiapan seperti peralatannya apa saja, bahasanya seperti apa? Ini yang ingin kita gali dan wariskan kepada anak cucu kita ungkap Bupati.

kita ini kaya akan budaya tugas kita adalah menjaga, melestarikan kepada anak cucu kita, ungkap Langoday.

Dana PEN sudah ada, kita akan bangun infrastruktur jalan dari pusat produksi pertanian menuju kota. Dan ketika memulai tentu akan ada seremonial. Seremonial seperti apa? Misalnya ketika buka tanah orang, ambil batu, pasir tentu ada bahasa adatnya. Hal ini kita maksudkan agar pembangunan memiliki aura. Jangan sampai anggaran besar tapi tidak memiliki aura jangan sampai kita bangun dua tahun rusak lagi, kita bangun di depan rusak di belakang. Kearifan lokal ini yang ingin kita angkat agr pembangunan selaras alam. Tentu pengawasan dan analisis dampak lingkungan harus menjadi perhatian serius

saya minta, agar pembangunan diareal tertentu harus dilakukan analisis dampak lingkungan dengan begitu pembangunan bisa, selaras alam. Jika kemudian dikatakan tidak bisa karena memiliki dampak kerusakan yang besar maka kita perlu mencri alternatif lain dengan buka jalan baru,hutan baru dan diawali dengan seremonial. tidak lantas alat berat datang Main gusur jadi kita sedang tidak membuat konflik baru dengan alam.

Lihat ada banjir dimana-mana, apakah alam sedang marah? Apakah kita tidak berdamai dengan alam? Jika selama ini lakukan perusakan mari kita minta maaf. Nah itu bahasanya seperti apa? Saya yakin ada Belen raya dikampung-kampung tahu syair bagaimana berdamai dengan alam. Saya yakin jika mereka ametprat saja, banjir tidak mungkin datang. Dia omong saja batu tidak berguling menimpa rumah. Dan inilah yang saya maksudkan selaras alam ujar Thomas.

saya yakin bencana yang menimpa Lembata saat ini karena kita tidak lagi hidup selaras alam.


By mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

4 thoughts on “Sare Dame, Ekplorasi Budaya Lembata, Hidup Selaras Alam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *