Mediasurya.com, Pertanian || Harga olahan porang dalam bentuk tepung mencapai Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu perkilogram. Harga yang menggiurkan ini membuat petani porang mulai fokus mengolah porang menjadi tepung.

Baca juga ; Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Kepala Desa Katakeja-Atadei Hadirkan Vaccum Friying Buat Kripik Buah.

Diduga Hasil Pekerjaan Berkualitas Buruk, Komisi II DPRD Lembata, Perintah Kontraktor Kerja Ulang Proyek Jalan Senilai 10 Miliar Lebih Di Kedang

Ketua Sahabat Petani Porang Sukoharjo (SPPS) Erwin Lasianto beberkan bahwa harga umbi porang sempat menggila pada 2018-2019 lalu. Namun, saat ini harga umbi porang hanya Rp 3000 per kilogram saja. Namun, hal ini tidak membuat petani porang patah arang.

“Setelah harga tidak sesuai harapan petani kemudian saya dan Tim berusaha agar tetap terjaga konsistensi petani porang,” kata Erwin.

Erwin mengungkapkan bahwa saat ini SPPS berhasil membuat tepung glukomanan, yang sudah dipisahkan kalsium oksalatnya. Erwin mengklaim hasil olahan itu telah melalui uji lab yang bisa dipertanggingjawabkan secara ilmiah. Kata dia, porang memiliki banyak manfaat di antaranya untuk produk makanan, kesehatan, kecantikan bahkan industri tekstil.

“Kalau yang kami buat ada yang bikin olahan makanan sirataki, bakmi, dawet. Kami juga mendapatkan permintaan ke arah tablet atau kapsul dari perusahaan,” jelas Erwin.

Baca juga ; Evaluasi Kinerja Penjabat Bupati Flotim Dan Lembata, Dapat Nilai Buruk Dari Mendagri

Lebih lanjut dijelaskan Erwin, dalam pengolahannya umbi basah porang sejumlah 8 kilogram dapat menjadi satu kilogram tepung glukomanan. Sementara penggunaan pada pengolahan beras lebih sedikit. Dengan pengolahan itu harga jual porang lebih terdongkrak. Menurutnya, hasil olahan porang berbentuk tepung dijual dengan harga sekitar Rp 350.000-Rp 400.000/kilogramnya. Sementara harga beras porang dijual sekitar Rp 150.000/kilogram. Penjualan menyasar pada pasar online.

“Kalau untuk reseller kami juga ada semacam keuntungan bagi mereka. Sehingga harga kami bedakan,” terang Erwin.

Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian, Bagas Windaryatno mengakui bahwa pada 2019 harga umbi porang seharga Rp 10.000/kilogram bahkan lebih. Namun kini harga umbi porang hanya sekitar Rp 3.000/kilogram.

“Untuk program pendampingan porang 2023 ini kami lakukan pendampingan budidaya. Selain itu pendampingan terhadap upaya untuk hilirasi,” terang Bagas.

Menurut Bagas, porang harus diolah menjadi bahan makanan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Hal itu bisa berupa tepung atau beras. Bagas mengakui pengolahan itu perlu dilakukan secara masif namun perlu pendampingan dan pelatihan.

“Kami selalu mendorong apa yang menjadi program kegiatan petani porang yang tergabung dalam Saat ini mereka sudah bisa mengolah porang. Kami ingin terus menjadi fasilitator, pendamping dan membuka akses bagi petani porang,” pungkas Bagas. Sumber ; Radarsolo.(kwl/dam)

By mediasurya .com

Ungkap Realita Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *