WAKIL BUPATI FLOTIM IKUT MENGHADIRI RITUAL ADAT DI LAMAHELAN HELAN LANGO WUYO

WAKIL BUPATI FLOTIM IKUT MENGHADIRI RITUAL ADAT DI LAMAHELAN HELAN LANGO WUYO

Mediasurya.com Adonara – Tradisi adat istiadat masyarakat Lamaholot menunjukan Harga diri suatu suku dan budaya demikian pun yang dilakukan masyarakat Adat Adonara yang terjadi di Desa Helan Lango Wuyo,29 April 2021, dimana Heri Dosinaen salah satu keturunan dari tetesan darah leluhur Kelake Ado Pehan, yang mengawali proses ritual “Amet prat” atas unsur kesalahan warga Desa Niha one melakukan pelanggaran di puncak Gunung Boleng beberapa tahun lalu .

Baca juga ; MONITORING IRJEN KEMENSOS KE POSKO TERPADU DI WILAYA ADONARA

Menurut Paulus Laga Aman penjaga Gunung Boleng secara turun temurun menyampaikan bahwa terhitung hari ini sudah 67 Desa yang datang menyatakan kesalahan mereka . Pengambilan Air Jara di Puncak Gunung Boleng ternyata dijual sesuai pengakuan salah seorang warga Sagu dengan Rp.200 ribu perbotol kecil ukuran botol pensilen . Kami baru mengetahuinya setelah ibu itu datang menceritakan sekaligus menyatakan siap menerima segala konsekuensi hukum adat . Kisah paulus Laga Aman saat memberikan wejangan singkat kepada masyarakat Desa Niha One usai makan siang .

Dalam acara proses Amet prat tersebut, hadir pula wakil Bupati Flores Timur Agus Payong Boli yang pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa, Dengan Kehadiran saya menunjukan bahwa Pemerintah Kabupaten ikut hadir hari ini, dan demi menghormati, menghargai Tatanan Mekanisme Adat dengan berbagai konsekuensinya dalam melindungi masyarakat banyak . Hingga saya berpesan bahwa kalian tidak perlu mengindahkan omongan di medsos terhadap Ritual hari ini .

Agus Boli dalam sambutannya menegaskan ” Saya meminta kepada seluruh Kepala Desa agar persiapkan diri guna melakukan perembukan dan duduk bersama Pemerentah Kabupaten Flores Timur untuk menyepakati tentang Perlindungan Tempat larangan di puncak Gunung dan agar hanya melewati satu pintu saja untuk semua kita ingin menuju ke puncak Gunung; agar generasi kedepan tidak lagi semau mereka sendiri tanpa diketahui penjaga Gunung dan Pemangku Kepentingan lainnya di Lewotanah ini “,imbuhnya .

Heri Dosi Naen, Kelake Ado Pehan bersama Kewae Sode Bolen dalam wejangan menandaskan bahwa Leluhur kita senantiasa bersama sama dengan kita dalam menapaki perjalanan hidup setiap hari, untuk itu kita mesti menjaga perilaku kita agar tidak mendatangkan petaka buat kita sendiri .

Baca juga; Herryanto Wijaya, S.H.,M.Kn, Serahkan Donasi Dari Ikatan Notaris Indonesia Kepada Korban Bencana Lembata.

Sesuai pantauan mediasurya.com bahwa urusan ritual khusus Amet prat pada leluhur Ola ilhen yang murka atas terganggunya ketengan diusik serta barang barang miliknya di ambil tanpa izin seperti Raja Air ini, dalam melakukan tahapan ritualpun melibatkan beberapa suku lain di Desa Helan Lango Wuyo serta sudah barang tentu amat melelahkan, namun terlihat semangat seluruh warga Desa tidak keluhkan capek lelah mereka .

Penulis; Bernadus naragere

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *